Kebun Serai

Serai and cassava (photo by Iipalbanjary)

Serai and cassava (photo by Iipalbanjary)

Ternyata serai bisa ditanam di bawah tegakan. Kali ini, meski peneduhnya berupa singkong, tapi bukan tak mungkin serai bisa ditanam di bawah pohon, seperti Katuk. Sebagian besar orang menggunakan serai untuk bumbu dalam memasak. Sebagian yang lain untuk mengobati batuk, dengan dicampur sirih, temulawak dan lempuyang.

Kebun serai ini milik salah seorang petani di kampung Cijeruk desa Sukaluyu, Kecamatan Nanggung. Agak berat perjalanan ke kampung ini. Sebagian jalannya memang sudah diaspal, tapi sebagian yang lain masih berbatu. Besar-besar pula.

Kata orang-orang juga, serai termasuk komoditas ekspor. Saya sih belum konfirmasi tentang ini. Para petani hanya menjual serai kepada para pedagang dan pengumpul yang datang ke desanya. Para pedagang itu lalu membawanya ke Jakarta.

Pembaca, ada yang tahu informasinya?

White-yellow flower

the flower (photo by iip)

the flower (photo by iip)

Neither anthurium nor orchid, I found this flower in a guava’s field of Sukaluyu village. The village located in near national park of Halimun, about an hour from Bogor city.

If you recognize this flower, please feel free to put your comments to this post. It may help both me and others. Don’t let a fabulous flower without a name.

Petani dan adopsi teknologi

Karakter sosial budaya masyarakat mempengaruhi adopsi teknologi pertanian. Menurut Kasmiyati (2007), faktor sosial budaya yang mempengaruhi tingkat adopsi teknologi pertanian tersebut antara lain faktor pendidikan, komunikasi, empati, orientasi masa depan dan sikap terhadap inovasi teknologi.

Penelitian Kasmiyati berlokasi di daerah Batu, Malang. Saya hanya mendapatkan softcopy abstrak tersebut dan terlihat faktor sosial budaya dijelaskan dengan parameter ‘tinggi’ dan ‘rendah’. Apakah dengan parameter seperti ini bisa mengakomodasi fenomena adopsi teknologi? Saya koq gak yakin yah. Tidak semua parameter sosial budaya bisa dijelaskan dengan ‘tinggi’ atau ‘rendah’. Mungkin kalau tingkat pendidikan bisa menjadi ukuran yang jelas. Tapi, kalau itu menyangkut kebiasaan masyarakat setempat?

Continue reading

Hambaro: Rich and Poor

This spot located in Nanggung sub-district, an hour trip from Bogor city. On top of a valley, I saw settlement of Hambaro village. Hambaro village claimed as poorest village in Bogor District. Maybe you won’t believe, Hambaro has fertile land and good access to Jakarta. Some villagers cultivate paddy for subsistence. Others plant guava and vegetables. There’re also abandoned lands since people tend to get cash work like trading, infrastructure worker in Jakarta.

Another cash work attracts people of Hambaro: gold mining! Yeah, although there’s a state-owned company of gold mining settles near the village, people still run gurandil, a traditional gold machine. They dig gold-clay in mountains, bring it down and process it in gurandil. Miners sometime left their family for one or three weeks to get sacks of clay.

So this is a spot we find rich natural resources surrounded by poverty

A view of Hambaro (photo by Iip)

A view of Hambaro (photo by Iip)

Katuk

KATUK (Sauropus androgynus) not only grow in Borneo. Farmers in Bogor of West Java, Indonesia cultivate this staple vegetable for years. I posted a picture of katuk cultivated in Ciampea last year. Last week, I found farmers plant katuk under guava tree in Nanggung, a subdistrict of Bogor.

Katuk under guava trees (photo by iip)

According to ECHO, Katuk is native to the lowland rain forest understory and prefers a hot, humid climate. Katuk can grow both in shade or full sun, and even tolerates occasional flooding and acidic soils. In ideal conditions, katuk can grow up to 1.5m per month.

Cara Mencari Anggota OT

Ini benar, OT yang dimaksud bukan kumpulan penggemar anggur cap OT. Tapi yang dimaksud di sini adalah anggota Organisasi Terlarang (OT).

Hmm..sudah lama sekali ya tidak pernah mendengar istilah OT. Adakah yang punya kliping berita-berita seputar intelejen antara tahun 1980-1990-an? Barangkali kita bisa menemukan istilah tersebut. Tapi, siapakah anggota-anggota OT? Apakah hanya eks anggota PKI?

Continue reading

Bogor ke Jogja, naik apa?

Kereta: Naik Taksaka pagi yang berangkat dari Gambir jam 08.15. Dari Stasiun Bogor, kita bisa naik KRL ekspress Pakuan jam 06.24, turun di Gambir sekitar jam setengah delapan. Ada waktu tidak terlalu lama untuk baca Koran hari itu, sambil minum kopi susu. Oia, kita tidak perlu beli tiket Pakuan lagi karena tiket Taksaka bisa menjadi tiket terusan. Cukup diperlihatkan saja kepada petugas, lalu beres! Lumayan, irit 11 ribu. Cek jadwal dan harga tiket di sini.

Naik kereta lain, seperti Fajar Utama atau Senja juga bisa. Repotnya, tidak ada KRL/bis langsung dari Bogor menuju stasiun tersebut.

Bis Malam. Banyak bis malam yang menuju Jogja, seperti Lorena dan Mulyo Indah. Keduanya sama-sama kelas eksekutif, dengan harga tiket yang hampir sama dengan tiket Taksaka pada hari biasa. Enaknya Mulyo Indah, kaki kita bisa selonjor. Agak repot-nya, bis-bis tersebut berangkat sejak jam 2 atau 3 siang dari poll-nya, dan nyampe di Jogja pagi-pagi. Bis tersebut biasanya lewat Jakarta dulu, ngetem di beberapa tempat, sebelum benar-benar meninggalkan Jakarta via pantura selepas jam 7.

Kalau pas kepepet atau mau cari tantangan juga boleh. Selepas jam 6 sore, cobalah ke Terminal Kampung Rambutan atau Grogol. Dan siap-siaplah ketemu banyak calo di sanaJ

Pesawat. Cepet dan mahal!

Jalan Baru

Hebat. Bulan Februari datang, Jalan Baru rusak lagi. Setahun kemarin, catatannya hampir sama. Bahwa Bogor punya kebiasaan listrik mati dan jalan yang rusak.

Kalo Anda belum tahu Jalan Baru, mungkin saya bisa membantu. Jalan ini menghubungkan Jalan Raya Bogor-Jakarta, tepatnya di pertigaan Warung Jambu dengan Parung. Anda akan melewati sebuah jembatan, perlintasan rel, beberapa perumahan, Hypermart, mall Yogya, kampus UIKA dan lain-lain. Nama resminya Jalan Soleh Iskandar.

Pemda sedang membangun jembatan baru yang sekarang penuh sesak. Juga sebuah underpass di bawah rel. Beberapa ruas juga sedang dicor dengan beton tebal yang mirip kue lapis.

Kira-kira kurang dari satu semester kemarin, ruas antara mall Jogja dan pertigaan Yasmin diaspal. Drainasenya juga diperbaiki dan jalanpun kembali lancar. Tapi itu cuma sebentar, sebab bulan Februari datang lagi. Bulan in konon puncaknya musim hujan dan saatnya Jakarta dibuat lumpuh. Malangnya, tahun ini kita lagi ngadain Visit Indonesian Year 2008. Eh, ndilallah koq ya akses ke Bandara Soekarno Hatta juga ditenggelamkan air.

Malang juga nasib incumbent yang akan maju ke Pilkada Bogor tahun ini. Pasti masyarakat dengan gampang menilai kualitas kepemimpinan mereka dari penampakan fisiknya. Iya, seperti nasib Jalan Baru itu. Jadi ingat dulu jaman orde baru, kalau di desa itu Golkar menang, maka jalannya biasanya mulus. Tapi kalau kalah, jangan harap deh..

Btw, gimana kalo Jalan Baru diganti saja namanya menjadi Jalan Februari atau Jalan Rusak?:)