Milis-milis kehutanan makin ramai April 27, 2008
Posted by iip albanjary in Forest.Tags: discussion forum, Forest
9 comments
Akhir pekan kemarin, iseng-iseng kuperiksa halaman-halaman di yahoogroups yang memuat informasi milis kehutanan berbahasa Indonesia. Ada lima milis yang kuperiksa, tiga diantaranya dari tiga kampus yang memiliki program studi kehutanan, seperti UGM, IPB dan Unmul. Dua milis lain adalah milis jaringan rimbawan interaktif dan forum komunikasi kehutanan masyarakat.
Oia, semua milis tersebut anggotanya berkisar dari 120-an sampai 800an per 25 April 2008 kemarin. Dan semua halaman milis tersebut masuk ke dalam domain public.
Apa yang saya temukan? Rata-rata posting pada tahun 2007 ternyata lebih tinggi sekitar 48% dari tahun sebelumnya. Bahkan pada triwulan pertama 2008, jumlahnya meningkat sekitar 117% dibanding tahun 2006. Peningkatan ini barangkali terkait dengan even internasional COP-13 di Bali akhir tahun kemarin. Juga ada Forestry Week di Hanoi akhir minggu kemarin, dan mungkin pula banyak orang yang membicarakan rekrutmen pegawai, baik Dephut maupun Perhutani. Atau Anda punya pendapat lain?
Zakat, hutan dan kemiskinan April 25, 2008
Posted by iip albanjary in Forest.Tags: Forest, islamic finance
add a comment
Baru-baru ini, di milis forestgam salah seorang rekan memposting tentang peran zakat yang dikaitkan dengan kemiskinan. Mungkin sudah ada beberapa artikel yang serupa, tapi bagaimana konteksnya di dunia kehutanan kita? Saya lalu merespon posting tersebut dengan melibatkan konteks keuangan syariah. Ini copy email saya:
Indonesia sudah punya UU pengelolaan zakat sejak 1999. Pembuat peraturan tentu sudah memahami bagaimana potensi zakat yang besar, sebagaimana mas bambang utarakan.
Saya melihat zakat dijadikan sarana pengentasan kemiskinan melalui jalan pemberdayaan, baik dalam pemberdayaan ekonomi, pendidikan maupun kesehatan. Lembaga pengelola zakat, baik bentukan UU tersebut maupun yang dikelola secara swadaya bergerak di tingkat grass root atau sektor riil, dan sepertinya masih sulit menghitung dampaknya di level nasional.
Potensi zakat tidak lebih besar dari dana publik yang di-spend untuk BBM. Bahkan bila semua zakat digunakan untuk mensubsidi BBM, maka itu akan habis kurang dari 3 bulan dengan asumsi kondisi seperti sekarang.
Sistem zakat sampai sekarang masih dianggap menjadi biaya tambahan bagi pengusaha. Tidak ada insentif (eg. pengurangan pajak) bagi pengusaha yang membayar zakat. Pun demikian dalam pengadopsian keuangan syariah, masih terjadi pajak berganda. Btw, laporan khusus Forbes baru-baru ini membahas bagaimana keuangan syariah sedang berkembang di berbagai negara, dari UK sampai Singapore.
Kalau regulasi keuangan syariah di Indonesia kondusif, Indonesia berpeluang menarik investasi dari Timur Tengah yang sedang mengalami kebanjiran dana akibat naiknya harga minyak bumi.
Apakah investasi demikian akan menolong industri kehutanan, termasuk hutan tanaman? Saya yakin iya, meskipun jalannya masih agak jauh.
Kembali ke zakat. Mengentaskan kemiskinan, dengan pendekatan pemerataan dan zakat, bisa jadi jalan yang tepat. Tapi itu saja tidak cukup. Masih diperlukan cara-cara bagaimana menyiasati pengaruh global yang semakin tidak terkendali. Semakin hari, peristiwa yang terjadi di kejauhan sana makin dekat dampaknya. Perangnya di Iraq, tapi minyak tanah hilang di Jakarta. Makin hari peran negara makin menyusut, digantikan oleh peran lembaga-lembaga internasional, perusahaan multinasional dan pasar.
Setelah membuat respon tersebut, timbul pertanyaan yang makin sulit. Bagaimana peran lembaga keuangan syariah dalam menolong sektor kehutanan di Indonesia? Apakah lembaga keuangan syariah mau membiayai perusahaan perusahaan yang menggunakan hasil hutan curian? Secara syariah tentu tidak boleh, tapi apakah pihak bank akan menutup mata? Menggunakan bahan baku kayu curian perlu dibuktikan secara hukum, dan pihak bank perlu menggunakan asas prudent dengan lebih baik.~
Deforestasi Riau January 30, 2008
Posted by iip albanjary in Forest.2 comments
“Mengerikan!” komentar seorang hadirin dalam sebuah pemaparan jelang makan siang. Si presenter menyajikan data tahunan yang berkaitan dengan deforestasi di Riau mulai dari tahun 1982 sampai 2007. Sebagian besar analisisnya berdasarkan citra satelit, meski data lapangan juga dihimpun dengan baik.
Pada mulanya presenter itu menerangkan bagaimana hutan Riau menjadi tempat hidup berbagai fauna penting seperti gajah sumatera dan harimau sumatera yang langka. Di Riau pula, sebagian kawasan hutannya berada di tanah gambut, yang menyimpan karbon dalam jumlah yang sangat banyak. Riau memiliki tanah gambut terbesar di Indonesia, katanya.
Presentasi kemudian berlanjut bagaimana hutan di Riau telah berkurang lebih dari separuh sejak 1982. Deforestasi yang terjadi di Riau ternyata lebih cepat daripada yang terjadi di hutan Amazon. Yang menarik, deforestasi itu ternyata dikontribusi secara nyata oleh dua hal : hutan tanaman akasia dan perkebunan kelapa sawit!
Maka, ketika kita melihat provinsi Riau tahun 1982, kita melihat warna hijau sangat mendominasi. Tapi ketika melihat tahun 2007, maka Riau sudah menjadi mozaik. Kebun kelapa sawit menyebar di atas tanah-tanah gambut , bersamaan dengan kebun tanaman akasia.
Di bagian akhir presenter memperlihatkan skenario jika tidak ada upaya memperbaiki (bussines as usual), maka hutan di Riau akan berkurang hampir 2 juta hektar sampai 2015. Namun, bila mengikuti rencana tata guna lahan yang sedang diperbaiki pemda setempat, maka hutannya ‘hanya’ akan berkurang sekitar 1 juta ha.
Ck..ck..sepertinya cerita tentang Riau akan tetap berlanjut. ~
Karbon, Biofuel dan Deforestasi September 16, 2007
Posted by iip albanjary in Forest.Tags: Forest
4 comments
Pilihan mengembangkan biofuel di Indonesia di masa mendatang masih menjadi perdebatan. Dimanakah perdebatan itu terjadi?
Pertama, menggunakan biofuel untuk menggantikan bahan bakar fossil memang akan mengurangi emisi karbon. Padahal, produksi bahan untuk menjadi biofuel berkorelasi dengan deforestasi yang mengemisikan karbon.
Temuan ilimiah mengindikasikan bahwa jumlah karbon di perkebunan kelapa sawit dewasa jumlahnya sangat kecil dibandingkan dengan yang tersimpan di hutan (ASB Climate Change Working Group 1999). Selain itu, jumlah karbon yang bisa diserap dengan penghutanan pada luas area yang sama, jumlahnya 2 sampai 9 kali lebih banyak daripada jumlah karbon yang bisa dihindari dengan menggunakan biofuel, pada periode selama 30 tahun. (Science Vol 317 Agustus 2007)
Kedua tentang biofuel itu sendiri. Di sini, biofuel yang relevan di Indonesia adalah biodiesel dari kelapa sawit. Indonesia memproduksi CPO hampir menyamai Malaysia yang menduduki nomor satu di dunia. Dari sekian juta ton CPO yang diproduksi, kebanyakan dibuat untuk bahan-bahan makanan (edible) sampai kosmetik. Untuk produksi biodiesel jumlahnya sangat sedikit.
Fakta yang menarik, pada tahun 1967 produksi CPO Indonesia hanya sekitar 167 ribu ton, dan pada tahun 2005 ternyata sudah melonjak 11 juta ton . Sebagian besar dari produksi itu diekspor (Statistik Perkebunan Deptan, 2006). Beberapa lembaga penelitan sebenarnya sudah bisa membuat mesin produksi biodiesel, meski dalam skala yang belum begitu besar dan Pertamina sudah mulai menjual biosolar, solar yang dicampur dengan biofuel dengan perbandingan tertentu. Hanya saja, apakah Indonesia benar-benar berkeinginan mengganti sebagian konsumsi bahan bakar fosil dengan biodiesel buatan dalam negeri?
Ketiga tentang deforestasi : Dimanakah sebenarnya terjadi deforestasi? Apabila itu terjadi di hutan konversi, apakah kita kita menyebutnya sebagai deforestasi? Bukankah itu kawasan hutan yang sudah dicadangkan untuk dikonversi? Bagaimana jika terjadi di hutan produksi yang ditinggalkan pengelolanya? Bagaimana jika hutan konversi dijadikan perkebunan kelapa sawit secara legal? Faktanya, deforestasi dimanapun berarti pengurangan fungsi ekosistem hutan. Tetap ada dampak ekologis dan social bagi penghidupan masyarakat sekitar. Namun, menggunakan istilah deforestasi secara tepat akan lebih baik dalam koteks diskusi yang konstruktif ini.~
Orang Miskin & Tanah yang Subur May 25, 2007
Posted by iip albanjary in Forest.Tags: Forest, Indonesia, Java, poverty, Society
add a comment
Bagaimana mengurangi kemiskinan di wilayah yang tanahnya subur?
Mungkin jawabannya gampang. Manfaatkan saja tanah-tanah tersebut dengan tanaman produktif yang bernilai ekonomi lebih tinggi. So, hasilnya akan meningkatkan pendapatan para orang-orang yang miskin tersebut.
Hhmm..so simple itu kah? Tentu tidak. Kalau kita sempitkan pembicaraan hanya pada masalah lahan saja, maka itupun belum cukup. Dimana letak tanah-tanah yang subur tersebut? Di daerah yang dekat dengan kota, mungkin orang lebih suka menjadikan tanahnya sebagai permukiman dan usaha komersil.
Sementara di wilayah yang berdekatan dengan kawasan hutan, perubahan penggunaan lahan menjadi masalah yang lebih serius karena fungsi ekosistem terancam. Temuan terbaru juga memperlihatkan bila pelaku deforestasi ternyata tidak hanya korporasi yang mendapatkan untung besar, tapi juga orang-orang miskin itu sendiri. Mereka mengubah hutan karena tanahnya subur.
Di kawasan hutan yang berdekatan dengan permukiman, isu penguasaan lahan menjadi kritis. Di Pulau Jawa, kebanyakan petani hanya memiliki lahan yang tidak seberapa luas. Bahkan sebagian dari mereka hanya menjadi petani penggarap saja. Maka, persoalan menjadi menjadi makin kompleks ketika mereka tidak memiliki akses ke hutan, baik hutan produksi maupun hutan lindung.
Jadi inget nih tulisannya Pak Simon tentang “Hutan Jati dan Kemakmuran”. Baca lagi aah…:)
Sengon, Spon dan Banjir Jakarta February 12, 2007
Posted by iip albanjary in Forest.Tags: Environment, flood, jakarta, sengon, tree
1 comment so far
Gambar ini diambil sekitar akhir 2004 di Temanggung, Jawa Tengah. Ini adalah barisan bibit sengon yang sedang diperika kualitasnya, sebelum benar-benar akan ditanam. Pada saat itu pemerintah sedang giat-giatnya melakukan rehabilitasi lahan dengan berbagai tanaman kayu maupun buah-buahan.
Banyak orang beranggapan bahwa dengan menanam banyak pohon maka bisa mencegah banjir. Banjir di Jakarta beberapa waktu lalu bahkan, katanya, bisa dicegah apabila bagian hulu Sungai Ciliwung atau daerah sekitar Puncak kondisinya baik dalam ‘menyerap’ air. Kondisi yang baik dalam ‘menyerap’ air itu digambarkan bila tutupan lahannya berupa hutan.
Anggapan demikian berasal dari teori ‘spon’ . Bahwa suatu hutan yang baik akan berlaku seperti spon raksasa; menyerap air dan menyimpannya dalam waktu tertentu. Teori spon raksasa dibangun oleh para rimbawan di Eropa, sekitar akhir abad ke-19. Secara singkat teori ini menyatakan bahwa tanah hutan yang kompleks, perakaran dan seresahnya akan bersifat seperti spon yang menyerap air selama musim hujan. Kemudian, pada musim kering air akan dilepaskan secara perlahan.
Sampai sekarang teori ini masih banyak dipakai dalam kebijakan di berbagai negara, meski sudah dikritik sejak 1920an (CIFOR, 2005).
Melakukan rehabilitasi saja tidak bisa mencegah banjir. Jika Teori Spon itu benar, tentu saja memiliki keterbatasan, karena sebuah spon, meskipun berukuran raksasa, tetap memiliki kapasitas. Bila air yang jatuh melebihi kapasitas, maka tetap akan luber.

