Archive for the ‘Forest’ Category
Mitos kayu durian
Masyarakat di sekitar Beutong, Nagan Raya Aceh tidak pernah menggunakan kayu durian untuk bahan bangunan rumahnya. “Tabu, “ kata seorang petani di desa Blang Bayu suatu waktu di akhir Desember 2009. Menurutnya orang yang mendiami rumah yang menggunakan kayu durian, rejekinya akan kurang. Orang-orang tua mereka mengatakan seperti itu, sehingga mereka lebih suka menggunakan kayu meranti atau yang lain.
Durian merupakan komoditas yang prospektif di pulau Sumatra, sekaligus memberikan pendapatan tambahan yang penting bagi petani. Pada musim berbuah, durian bakal ditemukan dimana-mana dengan berbagai rasa. Harganyapun relatif murah dibandingkan dengan durian yang dijual di Pulau Jawa.
Tabu-nya masyarakat menggunakan kayu durian bisa dilihat sebagai bentuk kearifan lokal untuk mempertahankan pohon durian. Selain itu, menurut Suara Tinta, di Aceh juga ada larangan untuk melempar atau memanjat durian muda.
Menurut Ketut, kayu durian banyak mengandung jaringan penguat (sklerenkim dan kolenkim), struktur yang kuat dan awet karena terdapat zat ekstraktif anti rayap dan jamur. Selain itu kayu durian memiliki serat yang halus sampai sedang dan rapat sehingga kayu menjadi awet serta memiliki pola yang menarik.
Industri kehutanan yang meredup dan produksi log HPH
Statistik memperlihatkan, ekspor produk kayu Indonesia makin menurun dari tahun ke tahun. Penurunan itupun gak tanggung-tanggung, lebih dari setengahnya!
Tercatat pada 2004, volume ekspor produk kayu Indonesia senilai 4,6 juta m3. Pada 2008, nilainya menjadi tinggal 1,6 juta m3. Pada 2009, volumenya diperkirakann juga stagnan, karena pada November 2009, volumenya baru mencapai 1,2 juta m3.
JP menyebut industri kehutanan “..remain on edge of survival..” meski sudah 10 tahun desentralisasi pemerintahan.
Hore, Indonesia siap menurunkan emisi karbon 26%
Ini cara pemerintah Indonesia menarik perhatian masyarakat dunia: Membuat target penurunan emisi karbon sebanyak 26% sampai 2020. Padahal, saat ini banyak negara industri yang masih menjaga jarak dan hanya berwacana tentang kesepakatan penurunan. Kesepkatan tersebut nantinya akan menggantikan Protokol Kyoto yang habis pada 2012.
Darimana pemerintah dapat angka sebesar 26%? Apakah ini terobosan pemerintah untuk selangkah lebih maju, politis atau strategi untuk menarik pendanaan global melalui mekanisme seperti REDD?
Kompetensi bermasa depan cerah di bidang kehutanan
Tak sengaja menemukan laporan UNEP tentang Green Jobs di sini, saya jadi teringat dengan diskusi Forestgam mengenai profesi kehutanan beberapa waktu lalu. Asosiasi profesi rimbawan memang selayaknya dapat berfungsi dengan baik, lebih-lebih trend pembangunan rendah karbon mulai ramai dan oleh karenanya pastilah membutuhkan tenaga kerja yang berkualitas.
Termasuk rimbawan. Beberapa berita memberitahukan kalau peminat jurusan kehutanan makin sedikit. Sementara para lulusan kehutanan juga tidak sedikit yang bekerja di luar bidang keahliannya. Saya menduga, pengetahuan profesi yang terkait dengan perubahan iklim –yang di dalamnya ada rimbawan—tidak terakomodasi dengan baik.
Dengan melihat trend global, area beberapa kompetensi di bawah ini sepertinya akan banyak dicari di pasar tenaga kerja, di-iklankan di kompas hari sabtu atau beredar di milis-milis kampus:
Banner “Plant More Trees”
Barusan latihan membuat banner, ternyata tidak sulit. Bisa dilakukan sebentar saja. Kalaupun membuat agak lama karena harus memilih kata-kata yang bernas dan bisa diletakkan dalam 3 baris saja. Banner di sampin ggini ukurannnya 125 x 125, bisa didownload dan dipake di widget wordpress. Caranya, copy kode-nya dan paste-kan di widget yang text.
<a href=”http://iipalbanjary.net/”><img src=”http://iipalbanjary.net/wp-includes/images/more tree save earth.gif” alt=”Plant More Trees” border=”0″ /></a>






