Indonesia punya tiga propinsi dengan budidaya sawit yang sangat berkembang. Menurut catatan dari Kementrian Pertanian, pada 1990 luasa total kebun sawit di ketiga propinsi tersebut hanya 790 ribu ha. Lalu sepuluh tahun kemudian melonjak hampir 3 kali lipat jadi 2,1 juta ha.
Pada 2008 luasan kebun sawit di tiga propinsi ini jumlahnya sekitar 48% dari total luas kebun sawit nasional yang mencapai kira-kira 7 juta ha. Ketiga propinsi itu adalah Sumatra Utara, Riau dan Sumatra Selatan. Ketiga propinsi ini pula menyumbang produksi CPO sebanyak 18%, 28% dan 10% dari total produksi minyak sawit nasional pada tahun yang sama.
Bagaimana dengan masalah kemiskinan di ketiga propinsi tersebut? Apakah benar klaim yang menyatakan kalau perkebunan kelapa sawit berperan dalam pengurangan kemiskinan? Mari kita lihat angka-angkanya.
Mongabay pernah merilis artikel tentang kemiskinan di daerah perkebunan sawit di Sabah dan Sarawak, Malaysia. Dengan mengutip analisis Bowden M, penulis mengatakan kalau peran perkebunan sawit dalam mengurangi kemiskinan mungkin terlalu berlebihan.
In Sarawak, where oil palm plantation cover expanded from 0.12 percent of the land area in 1976 to 4.08 percent in 2004, the proportion of the population living below the poverty line fell 85 percent from 51.7 percent to 7.5 percent in the same period. Meanwhile in Sabah, where oil palm plantation cover grew from 0.95 percent in 1976 to 15.81 percent in 2004, poverty rates dropped 55 percent from 51.2 percent to 23 percent.
Dengan melihat angka tersebut Bowden menyatakan,
It would be unwise to assume that the palm oil industry has had no positive impact on reducing poverty in Sabah, but it is clear that any causal relationship is not as strong as is broadly assumed.
Dengan memakai data kemiskinan BPS, maka kita bisa melihat apabila selama 2006 sampai 2008 pengurangan kemiskinan terbesar terjadi di propinsi Sumsel (minus 3,3%). Di Sumut penduduk miskin dalam periode yang sama berkurang 2.5%, sementara di Riau penduduknya yang miskin berkurang 1.1%. Expansi kebun sawit di Sumsel melonjak sebesar 13,9% dan angka yang sama terjadi di Riau maupun Sumut dengan pertambahan luas sebesar 4.9% dan 4.8%.
Melihat hubungan kemiskinan dengan luas kebun sawit bisa jadi tidak cukup menjelaskan beberapa hal. Secara nasional prosentase penduduk miskin pada 2008 adalah 15,15%. Sumut dan Riau prosentasenya di bawah angka nasional, yakni 12,47% dan 10,79%. Tetapi prosentase penduduk miskin di Sumsel adalah 17,67% , padahal propinsi ini paling tinggi ekspansi sawitnya.
Diskusi tentang ini barangkali masih panjang. Yang jelas, propinsi termiskin saat ini hanya sedikit memiliki kebun sawit. Di Papua dan Papua Barat yang lebih dari sepertiga penduduknya miskin perkebunan sawit di akhir 2008 luasannya hanya 56 ribu dan 80 ribu ha.

ironis sekali, mestinya ada yg gak klop ,kenapa bisa begitu?
harus ada perbaikan disana sini, agar kesejahteraan juga dapat merata.
salam
disana sini yang namanya perusahaan
bukan hanya perusahaan sawit
masih banyak perusahaan diluar perusahaan sawit
yang sama seperti itu
mana ada yang mau mengorbankannya asetnya
untuk kesejahteraan rakyat…
yang ada malah ” RAKYAT ” jadi KORBAN
DENGAN ADANYA PERUSAHAAN….
CONTIHNYA DI SULAWESI TENGAH
Banyak perusahaan tapi lihat thooo
rakyatnya jangan kan untuk kebutuhan hari esok
untuk makan aja senin kamis..
yang kaya hanya orang-orang yang punya saham aja..
jadi bagai mana orang yang tak punya saham…??
Wahh klo begitu cara berpikirnya, mending kita nggak perlu ada industri, perkebunan or sejenisnya. Yang perlu di permasalhkan adalah mengapa laju kemiskinan begitu cepat. Kehadiran industri termasuk perkebunan adalah merupakan salah satu solusi, hanya sayang kecepatan pertumbuhannya gak bisa mengimbangi kemiskinan. klo gak percaya bubarkan aja industri sawit, mkn banyak yg nganggur kan, LHooo
Bang Albanjari, desa Banjarsari, purwodadi dan Angasa Kecamatan Angasa Kabupaten Tanah Bumbu KALIMANTAN SELATAN, wayah ini adalah desa dengan pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia, bubuhan mereka adalah petani plasma sawit. Hasil per kapling (1,75 ha) adalah 2,5-3,5 jt/bulan nett
thanks atas info-nya mas.
mudah2an harga sawit tetap bagus shg pendapatan petani di desa banjarsari tetap tinggi.
salam