Masyarakat di sekitar Beutong, Nagan Raya Aceh tidak pernah menggunakan kayu durian untuk bahan bangunan rumahnya. “Tabu, “ kata seorang petani di desa Blang Bayu suatu waktu di akhir Desember 2009. Menurutnya orang yang mendiami rumah yang menggunakan kayu durian, rejekinya akan kurang. Orang-orang tua mereka mengatakan seperti itu, sehingga mereka lebih suka menggunakan kayu meranti atau yang lain.
Durian merupakan komoditas yang prospektif di pulau Sumatra, sekaligus memberikan pendapatan tambahan yang penting bagi petani. Pada musim berbuah, durian bakal ditemukan dimana-mana dengan berbagai rasa. Harganyapun relatif murah dibandingkan dengan durian yang dijual di Pulau Jawa.
Tabu-nya masyarakat menggunakan kayu durian bisa dilihat sebagai bentuk kearifan lokal untuk mempertahankan pohon durian. Selain itu, menurut Suara Tinta, di Aceh juga ada larangan untuk melempar atau memanjat durian muda.
Menurut Ketut, kayu durian banyak mengandung jaringan penguat (sklerenkim dan kolenkim), struktur yang kuat dan awet karena terdapat zat ekstraktif anti rayap dan jamur. Selain itu kayu durian memiliki serat yang halus sampai sedang dan rapat sehingga kayu menjadi awet serta memiliki pola yang menarik.
kayu durian? bahasa ilmiahnya apa ya mas Ip?
Lengkapnya nggak tahu mbak, yang jelas masuk keluarga Shorea.
baca bynkuua mba wina deh mba….bisa pingsan berkali2 krn memang buesar banget dana yang kita butuhkan untuk masa yg akan datang….terutama sekolah anak2 kelak…..duh makin pusing deh……bisa ga ya qm financial kasih kita subsidi buat belajar rencana keuangan pribadi heeee paling enggak ya subsidi silang gitu,…..
Nama ilmiah yang paling populer: Durio zibethinus.
Tapi, diyakini masih banyak species lain dari keluarga ini. Kalo yani sempat main ke kalimantan pada musim durian, bisa ditemui buah durian yang warnanya kuning ke-emasan atau merah. Enak pula
oalah… ini bener2 kayu pohon durian tho? kirain kayu yg lain, hehe. iya, aku baca di blognya Akin yg di Kalimantan banyak spesies aneh durian yg aku ngga tau. penasaran deh sama rasanya… pasti ada yg beda dgn durian Jawa.
baru tau nih, kalo kayu durian tabu buat org aceh.
nah begini kan keren bgt.
termasuk salah satu cara mempertahankan komoditi.
semoga penebangan hutan juga akan menjadi tabu.
great!
Lain padang, lain belalang.
Lain lubuk, lain ikannya.
Saat ini ditempat saya sedang rame-ramenya penebangan pohon durian, karena perkubiknya dihargai Rp. 800.000.-
padahal bagus ya kayu durian itu..
hmmm…
adik ibu saya tinggal di nagan..nanti coba saya tanya apa rumahnya pake kayu durian apa gak hehe
wah, kalo kayunya membuat seret rejeki, gmn tentang buahnya? kalo buahnya bikin seret rejeki nggak yach?
buah-nya mah enak atuh:)
duh, ternyata memiliki keunggulan dibanding kayu meranti yg lebih ngetop.
jangan sampai pembalak mengetahui, nanti bia habis pohon durian ditebang semua he…he…
salam.