Catatanku tentang katuk bertambah, setelah menemukan tanaman ini di halaman rumah-rumah warga di desa Tanjung Karang, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Warga di sana menanam katuk di halaman depan dengan jarak yang agak renggang, di bawah naungan pohon seperti kelapa, durian dan lainnya. Jumlahnya juga tidak banyak. Daunnya hijau agak gelap dan ukurannya juga lumayan besar dibandingkan dengan katuk yang ditanam petani di Ciampea atau Nanggung, Bogor. Dilihat dari tingginya yang satu meteran, tanaman katuk itu seperti sudah berumur lebih dari satu tahun. Sewaktu di sana, ada seorang ibu yang menjajakan sayuran tersebut berkeliling kampung. Harganya 2000 rupiah per-ikatnya, atau empat kali lebih mahal dibanding di yang dijual di warung desa Hambaro, Nanggung.
Bila petani di Ciampea sudah membudidaya katuk secara intensif, maka warga Tanjung Karang tidak demikian. Mereka masih memanfaatkan katuk untuk kebutuhan dapur sendiri. Sama seperti beras yang mereka dapatkan dari sawah tadah hujan mereka yang bisa seluas 1 ha.
Oia, beberapa petani di Desa Hambaro juga mendapatkan penghasilan tambah dengan membudidaya katuk di bawah kebun jambu mereka. Pengembangan katuk di Nanggung –sebagai tanaman sayuran yang kompatibel dengan agroforestry dibantu oleh tim peneliti dari ICRAF dan IPB.
Pingback: Ada katuk di Kapuas Hulu
Wah, Very Nice Blog, Senang bisa bersahabat , trims atas kunjungan dan tautannya di http://www.ruanghati.com semoga sukses selalu. link sudah kami pasang