Sepanjang perjalanan, banyak sekali kita temukan aren yang sudah tua, kadang mati tapi batangnya masih berdiri kokoh. Batang aren sepertinya punya kekuatan yang baik untuk suatu keperluan, hanya saja banyak yang belum mengetahuinya. Petani aren membiarkan saja batang aren yang mati berdiri karena butuh biaya dan tenaga untuk menebangnya. Buat apa mengeluarkan biaya kalau batang aren tidak berguna?
Ada pula petani yang sempat menebang, lalu benar-benar membiarkannya. Bagian tengah batang aren terlihat sangat rapuh, sangat kontras dengan kulitnya.
Kantung semar (Nepenthes) ini kita temukan di pinggir jalan dekat ![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=8a0a0776-d0f5-4b83-829a-a553036bf055)
Plang ini gak salah tulis kan? Masak bank sentral ngurusin kebun percobaan? Sampai sedetil itukah? Plang ini sendiri masih berdiri di salah satu desa wilayah Arse, Sipirok, Tapanuli Selatan. Plang-nya memang sudah tua seperti tidak terurus lagi. Di belakangnya juga cuma perdu dan pepohonan liar. Apa yang BI kerjakan di sini?![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=42098ba5-4a31-4377-a1e5-b48a381bea2e)
Masjid ini punya warna kontras dengan lingkungan sekitarnya: Biru. Terletak di desa Paran Julu, Sipirok, sebagian warga desa ini mengandalkan aren sebagai salah satu pendapatan utama keluarga mereka. Sekitar 5 menit dari permukiman desa ada hamparan sawah subur yang tak pernah kering. Di belakangnya hamparan tersebut ada beberapa bukit yang banyak tumbuh aren secara mengelompok.
Ini pemandangan dari salah satu bukit di Sipirok, Tapanuli Selatan. Sebagian pemandangan ini kupotong dan kujadikan header untuk template blog ini.![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=54dbab25-a6de-4949-8936-d8c7e0e85de6)