Saat banyak orang menghitung berapa dana yang dibutuhkan untuk membuat baliho dan iklan politik di televisi, kita dikejutkan dengan protes Suster Rabiah terhadap penayangan iklan Soetrisno Bachir (SA). Iklan ini, sejenis iklan yang menampilkan Rizal Mallarangeng (RM) : personal branding.
Suster yang terkenal tersebut tidak menyangka kalau iklan tersebut berkaitan dengan politik, dunia yang tak pernah dia sentuh. Suster ingin mengabdi, bukan ingin berpolitik. Sehingga ketika ditawari untuk tampil di iklan layanan masyarakat tentu mau. Tapi kalau itu adalah iklan politik…hmm
Iklan politik marak jelang pemilu. Selain SA dan RM, beberapa kandidat calon gubernur dan bupati pun sering nongol di televisi. Ah, kadang-kadang iklan tersebut bisa jadi variasi atas iklan komersil yang membosankan.
Bagiku, iklan politik adalah cara instan bangun image. Si tokoh menjadi komoditas yang hanya muncul menjelang momen besar. Komoditas seperti itu hanya akan hidup sementara, terlebih bila tidak diikuti oleh karya dan pengakuan publik yang tulus.
Oleh karena itu, mengalokasikan sebagian besar dana kampanye untuk iklan politik mungkin tidak akan berhasil dengan baik. Cobalah dengan menambah alokasinya untuk aktivitas off-air yang berkesinambungan dan menolong. Misalnya kredit untuk orang usaha kecil, program perlindungan kawasan tangkapan air maupun layanan kesehatan untuk orang miskin.~
Pertama kali mendengar informasi tersebut, saya merasa terkejut. Mengapa Soetrisno Bachir tidak secara transparan menjelaskan tujuan pembuatan iklan tersebut?
Berdasarkan realita itu, masyarakat dapat melihat bagaimana sifat kandidat tersebut yang terkesan tidak transparan dan “mencari kesempatan” dalam “mengkomersialkan sesuatu/seseorang”. Bagaimana ia dapat memimpin dengan baik jika dari awal saja sudah tidak transparan??
Pingback: Iklanwordpress.com | Portal Iklan Baris Gratis | Tanpa Perlu Registrasi | Pasang Iklan Sampai Puasss » Blog Archive » Iklan Politik