Ilmu Ikhlas

Kata ustadz M Mabrur, menjadi ikhlas itu adalah proses. Kita harus melatihnya dalam setiap bagian kehidupan. Ini karena ikhlas tidak mudah dilakukan.Seseorang yang tidak jadi melakukan suatu ibadah karena alasan dilihat orang lain, maka ia terjebak menjadi riya. Sebaliknya, melakukan ibadah karena orang lain maka jatuhnya menjadi syirik.

 

Kalau kita ingin ikhlas, maka kita harus melakukan suatu pekerjaan dengan maksimal. Kemudian, menyerahkan hasilnya kepada Allah Swt.

Misalnya, kita memberikan sedekah kepada orang lain. Jika orang tersebut memberikan respon yang tidak sesuai dengan harapan kita dan kemudian kita merasa kecewa, maka itu belum ikhlas namanya.

Maka benar jika makna bahasa dari ikhlas adalah bersih/murni –asalnya dari kata khalasha. Murnikan niat kita dalam semua perbuatan sehingga tidak mengharapkan sesuatu dari orang orang lain. InsyaAllah kita tidak akan kecewa.~

Hura-hura

Sore itu adzan magrib baru saja berkumandang dari sebuah masjid di perumahan pinggiran Jakarta. Sekitar lima belas meter dari masjid itu, terdengar suara canda tawa sekumpulan mahasiswa dari sebuah rumah yang pintu depannya terbuka sehingga tampak di dalamnya sedang diadakan pesta. Mereka sedang asyik berfoto di belakang kue tart besar. Di atasnya balon berwarna warni dengan rumbai kertas serupa memanjang ke setiap pojoknya. Dinding ruangan itu semuanya ditutup dengan kain krem sehingga menutup pintu-pintu kamarnya. Ada musik yang terdengar dari rumah itu. Musik riang gembira.

Menariknya, rumah itu adalah sebuah markas gerakan mahasiswa setingkat kota. Bendera hijau masih berkibar gagah di halaman ketika pesta itu berlangsung. Plang-nya masih menempel di samping pintu depan.

Saya jadi ingat ketika bertemu seorang aktivis dalam sebuah perjalanan dari Jogja. Dia sekarang menjadi pengurus sebuah organisasi di tingkat nasional, dan dulunya adalah penggerak penting organisasinya selama masih kuliah, sekitar 6 atau 7 tahun yang lalu. Jadi sewaktu reformasi masih hangat.

Dia mengungkapkan tentang kesulitan-kesulitan yang dialami organisasinya saat ini. Salah satu kesulitan itu, mahasiswa sekarang ternyata makin hedon. Boro-boro memikirkan agenda reformasi atau kesulitan rakyat kecil, banyak mahasiswa sekarang yang cenderung memilih hura-hura dan pragmatis. Organisasi pun kemudian mengalami kendala berarti dalam kegiatan perekrutan. Metode perekrutan jaman reformasi, katanya, sudah perlu diganti dan disesuaikan dengan tipe mahasiswa kebanyakan sekarang.

Ah, jangan-jangan pesta di markas itu adalah salah satu metode perekrutan terbaru?

Tapi saya ragu. Kegiatan perekrutan seperti itu tentu tidak sejalan dengan ideologi gerakan yang mengajarkan kesalehan individu dan sosial. Ideologi mereka tidak mengajarkan untuk lalai terhadap panggilan Tuhan, apalagi hura-hura.

Saya jadi rindu dengan seorang teman lama. Dia pernah berjanji tidak akan menginjakkan kakinya di mall –simbol hedonisme dan kapitalisasi modal –sebelum Soeharto jatuh. Dimana ya dia sekarang? Ah, pasti bukan di kerumunan pesta itu.~

Kusam

Celanaku lebih kusamMenjaga ribuan orang berdemonstrasi mungkin tugas yang sangat berat. Petugas tidak boleh salah mengambil tindakan, tidak boleh juga cepat emosi. Hadapi para demonstran dengan siap siaga dan tunggu perintah dari komandan.

Oia, jangan lupa siapkan juga pakaian dinasnya dengan baik sebelum berangkat. Kalau terburu-buru, bisa jadi nasibnya seperti pak polisi ini. Kelihatannya beliau memakai celana stok lama sehingga tampak lebih kusam dibanding milik rekan-rekannya. Atau salah pakai deterjen?

Tidak apa-apa. Yang penting situasi tetap aman terkendali. Delapan enam!

Stop crime against..

Stop crime against…

Hayoo tebak, apa kelanjutannya? Foto ini diambil ketika ada kegiatan penggalangan dana di Lapangan Monas, akhir Januari kemarin.

Sayang sekali, si objek bergerak lebih cepat dari gerakan jariku menekan tombol kamera. Semula, dari tempatku berdiri, poster tulisan itu sangat jelas. Dia berdiri di atas truk sehingga ribuan orang yang hadir bisa sangat jelas melihatnya.

Nah, beginilah nasib penggemar kamera kompak digital. Melatih sudut pandang memang tidak segampang membeli kamera SLR (kalo punya uangnya he..he.. he).

Barricade

barricade

Tidak semua jalan yang kita tempuh selalu nyaman. Ada saja yang membuat perjalanan itu menjadi berkesan, menyenangkan atau sebaliknya. Kadang yang tidak membuat nyaman adalah kita sendiri, misalnya lupa membawa dompet atau ponsel-nya ketinggalan.

Suatu saat perjalanan kita juga harus berhenti atau dihentikan. Entah karena orang lain atau sesuatu di luar kuasa kita. Pemberhentian itu, mungkin sementara karena barricade-nya memang dibuat sementara.

Berhenti sementara karena ada penghalang berarti membuka kesempatan kepada si musafir untuk melihat lagi, entah peta atau bekal yang ada.~

Jalan Baru

Hebat. Bulan Februari datang, Jalan Baru rusak lagi. Setahun kemarin, catatannya hampir sama. Bahwa Bogor punya kebiasaan listrik mati dan jalan yang rusak.

Kalo Anda belum tahu Jalan Baru, mungkin saya bisa membantu. Jalan ini menghubungkan Jalan Raya Bogor-Jakarta, tepatnya di pertigaan Warung Jambu dengan Parung. Anda akan melewati sebuah jembatan, perlintasan rel, beberapa perumahan, Hypermart, mall Yogya, kampus UIKA dan lain-lain. Nama resminya Jalan Soleh Iskandar.

Pemda sedang membangun jembatan baru yang sekarang penuh sesak. Juga sebuah underpass di bawah rel. Beberapa ruas juga sedang dicor dengan beton tebal yang mirip kue lapis.

Kira-kira kurang dari satu semester kemarin, ruas antara mall Jogja dan pertigaan Yasmin diaspal. Drainasenya juga diperbaiki dan jalanpun kembali lancar. Tapi itu cuma sebentar, sebab bulan Februari datang lagi. Bulan in konon puncaknya musim hujan dan saatnya Jakarta dibuat lumpuh. Malangnya, tahun ini kita lagi ngadain Visit Indonesian Year 2008. Eh, ndilallah koq ya akses ke Bandara Soekarno Hatta juga ditenggelamkan air.

Malang juga nasib incumbent yang akan maju ke Pilkada Bogor tahun ini. Pasti masyarakat dengan gampang menilai kualitas kepemimpinan mereka dari penampakan fisiknya. Iya, seperti nasib Jalan Baru itu. Jadi ingat dulu jaman orde baru, kalau di desa itu Golkar menang, maka jalannya biasanya mulus. Tapi kalau kalah, jangan harap deh..

Btw, gimana kalo Jalan Baru diganti saja namanya menjadi Jalan Februari atau Jalan Rusak?:)