Road to Cepu January 4, 2008
Posted by iip albanjary in Travel.Tags: central java, cepu, demak, journey, Life, semarang
1 comment so far
Ini episode ketika kami diturunkan di Stasiun Tawang Semarang pada dini hari akhir 2007. KA Sembrani yang kami naiki ternyata gentar dihadang air. Belum sampai kami di Stasiun Cepu, para petugas sudah menyuruh kami turun. “Akan ada kereta lain yang mengantar nanti, “ katanya. Iya benar pak, asal banjirnya juga sudah surut.
Beberapa orang dari kami akhirnya sepakat menyewa taksi untuk melanjutkan perjalanan. Kepala Stasiun akhirnya mau menanggung setengah biaya carter ini. Rintik hujan kami terobos, genangan air di atas jalan yang berlubang kami libas saja. Kami mampir juga di Masjid Agung Demak yang bersejarah itu.
Seorang pemuda yang ikut rombongan kami sangat bersemangat. Ia tampak hapal dengan jalan daripada sopir taksi itu sendiri. Beberapa kali sopir sempat ragu-ragu mengambil jalan alternative, tapi si pemuda itu kembali mengingatkan.
Usut punya usut, si pemuda ternyata besoknya harus duduk di pelaminan. Hari itu ia harus ke kantor KUA untuk mengurus dokumennya. Haiiyaa..
First think in your first day January 4, 2008
Posted by iip albanjary in Work.Tags: 2008, first, sekolah, Work
2 comments
Drowsy morning comes again. Hari pertamaku masuk kantor di 2008 disambut dengan gerimis. Tak ada mantel di bawah jok, akhirnya diputuskan naik angkot.
Setahun kemarin, hari pertamaku masuk kantor ini dipenuhi dengan antusiasme. Tahun baru dengan pekerjaan baru sudah cukup untuk melahirkan banyak gagasan aneh yang membuncah. Sayang, gagasan aneh tersebut langsung lenyap begitu memasuki ruangan yang sepi, dan agak temaram. Lho kemana orang-orang?
Laskar Pelangi January 4, 2008
Posted by iip albanjary in Review.Tags: Book, education, poverty
add a comment
Kupikir “Laskar Pelangi” adalah novel naturalis yang memasang tiap atribut sesuai dengan jamannya dan menggunakan gaya tutur yang sederhana. Dengan cara seperti ini kekuatannya tidak sekadar alur yang kuat, tapi juga keluwesan si penulis membangun situasi cerita.
Laskar Pelangi ternyata menggunakan berbagai kosakata yang mutakhir –kadang ilmiah, dan sangat jelas menggambarkan bagaimana si penulis memiliki pengetahuan dan wawasan yang sangat baik. Bumbu lain yang bikin novel ini terus disantap tentu fragmen jenaka-nya. Hal yang menarik lain adalah setting cerita, yang membuat pembaca merasa akrab, salah satunya adalah dengan menampilkan sekolah muhammadiyah dan guru-gurunya yang tulus dan penuh dedikasi.
Sekarang, saya tidak heran lagi mengapa ada acara yang diselenggarakan oleh salah satu elemen Muhammadiyah mengundang Adrea Hirata. Acara itu mengasah lagi kepekaan kita tentang nasib ummat yang sedang dijajah kemiskinan; sementara upaya pendidikan memiliki roda kuat yang bernama ketulusan dan dedikasi.
Maka benar kata Andy F Noya, siapa yang membacanya akan termotivasi dan merasa berdosa jika tidak mensyukuri hidup.~
