Menurut Anis Matta, situasi yang sulit harus diselesaikan pertamakali di dalam pikiran dan hati dulu. Ini syarat kemenangan yang selalu diceritakan dalam tiap sejarah
Anis mencontohkan kisah para sahabat dalam perang menghadapi pasukan romawi. Pasukan romawi yang jumlahnya ratusan ribu itu harus dihadapi oleh pasukan muslim yang jumlah sekian ribu (maap, angkanya lupa je:) ; dalam perbandingan yang tidak setara itu, sahabat tidak merasakan takut sedikitpun.
Di balik keberanian para sahabat itu, Anis menerjemahkan tigal hal mengapa kita seharusnya optimis dalam menghadapi tantangan yang berat.
Pertama, kita tidak pernah tahu ambang batas maksimum kita sendiri. Menurut para ahli orang-orang yang jenius sekalipun ternyata baru menggunakan 5% dari kapasitasnya sendiri. Mengoptimalkan apa yang dimiliki sekuat mungkin adalah jalan terbaik menuju kemenangan, kira-kira demikian menurut Anis.
Kedua, kita juga tidak pernah tahu sejauh mana ambang batas sunatullah. Ingat, ketika Nabi Musa bersama umatnya yang setia dikejar Fir’aun? Pasukan Fir’aun bahkan sudah sangat optimis karena rombongan Nabi Musa pasti mentok di pinggir laut. Namun itulah kebesaran Allah, hingga akhirnya lautpun bisa menjadi jalan kemenangan Musa.
Ketiga, nah..sayang nih. Ustadz-nya keburu turun minum.:)
Anyway, belajar dari sejarah tidak berhenti sekadar membaca saja. Adalah menyatakannya dalam konteks terkini dan menggunakan resep yang pernah digunakan oleh para orang-orang besar itu. Ini kalau kita mau menang dalam menghadapi situasi sulit. As Soekarno said, ”Jas Merah”.~