Penampilan bisa mengecoh. Ini kesimpulan yang kutarik setelah bertemu dengan seseorang dalam sebuah perjalan keluar dari Jakarta.
Jika saja dia berpakaian rapi, duduknya tenang, dan bersahaja barangkali dia kusapa sejak menit-menit pertama perjalanan. Tapi yang ini memang lain. Asap rokoknya mengepul bahkan sejak detik pertama duduk. Tidak henti-hentinya dia menghisap rokok itu seperti baru saja menghisap udara kebebasan. Hmm..dari penampilan seperti itu, orang yang melihatnya pasti akan mudah menarik kesimpulan dini. Pemuda ini persis duduk di samping kursiku, hanya dipisahkan oleh koridor untuk lewat penumpang lain.
Sampai kemudian dia membeli kue dari seorang pedagang asongan, ternyata dia berbicara dengan dialek jawa timuran. Dialek ini mengingatkanku pada teman-teman kampus yang kebetulan saja mereka supel dan enak diajak bicara. Ah, barangkali orang di sampingku ini juga demikian.
Setelah pedagang asongan itu pergi, tiba-tiba dia menawarkan kue yang baru saja dia beli. Dengan halus aku menolaknya, lalu bertanya balik tentang tujuan perjalanan mereka. Bagiku, basa-basi ini tidak begitu penting, toh aku sudah tahu kalau kereta ini menuju Surabaya. Tapi dengan basa-basi inilah percakapan bisa dibuka dengan lebih baik.
Dari situlah baru kutahu kalau dia baru saja mengikuti perlombaan. Kutebak dulu kalau dia seperti atlet atau apalah. Dia hanya tersenyum, sampai dia kemudian menjawab kalau habis mengikuti perlombaan hapalan Quran di sebuah kedutaan besar negara timur tengah.
Haa..?!!~