Istilah ini terlontar sewaktu pelatihan kepemimpinan lingkungan pada suatu siang, di ruangan yang dingin. Dari seorang doktor yang menjadi staf ahli menteri lingkungan, dua kata itu sempet membuat peserta pelatihan terseyum sebentar. Ya, hanya sebentar, dan sebagian malah terlihat kecut.
“Jaman Bener” merepresentasikan kondisi terbalik dari keadaan negeri yang bertemu dengan berbagai kondisi yang luar biasa sekaligus. Keadaan itu adalah datangnya bencana besar dimana-mana, ada korupsi di tubuh birokrasi, ada frustasi yang lagi diidap sebagian masyarakat dan tentu saja adanya kegagapan lebih banyak orang dalam memahami situasi seperti ini. Lebih parah, pemimpinanya ternyata tidak tanggap.
Menariknya, doktor tersebut mengeluarkan istilah “jaman bener” dalam konteks untuk melahirkan optimisme melihat situasi Indonesia terkini. Sepertinya memang ada tahap untuk menunggu kedatangan jaman tersebut. Ya menunggu.
Itulah masalahnya. Kenapa kita harus menunggu?