Quick count dan kredibilitas lembaga survei
Setelah LRI mempublikasikan hasil survei beberapa waktu lalu, maka hari ini ada publikasi survei pula di Media Indonesia. Survei ini dibuat oleh Indonesia Development Monitoring (IDM) dengan dua pesan besar: (1) Pasangan Mega-Pro memiliki tingkat elektabilitas paling tinggi dan (2) Pilpres diperkirakan akan berlangsung dua putaran
Publikasi lembaga ini bukan dalam bentuk berita, tapi iklan setengah halaman dan berwarna. Barangkali ini bentuk lain untuk kampanye di masa tenang dengan kemasan yang sopan dan ilmiah. Saya tidak yakin publikasi demikian bisa membantu mengubah persepsi masyarakat, terutama pembaca Media Indonesia atau surat kabar lain. Suka atau tidak, hasil survei ini gampang dibandingkan dan dinilai dengan survei lain yang kerap muncul di televisi, media online dan lembaga survei lain. Kalau hasilnya berbeda sangat jauh dengan hasil survei yang lain, maka publik akan bertanya-tanya.
Ada katuk di Kapuas Hulu
Catatanku tentang katuk bertambah, setelah menemukan tanaman ini di halaman rumah-rumah warga di desa Tanjung Karang, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Warga di sana menanam katuk di halaman depan dengan jarak yang agak renggang, di bawah naungan pohon seperti kelapa, durian dan lainnya. Jumlahnya juga tidak banyak. Daunnya hijau agak gelap dan ukurannya juga lumayan besar dibandingkan dengan katuk yang ditanam petani di Ciampea atau Nanggung, Bogor. Dilihat dari tingginya yang satu meteran, tanaman katuk itu seperti sudah berumur lebih dari satu tahun. Sewaktu di sana, ada seorang ibu yang menjajakan sayuran tersebut berkeliling kampung. Harganya 2000 rupiah per-ikatnya, atau empat kali lebih mahal dibanding di yang dijual di warung desa Hambaro, Nanggung.
Bila petani di Ciampea sudah membudidaya katuk secara intensif, maka warga Tanjung Karang tidak demikian. Mereka masih memanfaatkan katuk untuk kebutuhan dapur sendiri. Sama seperti beras yang mereka dapatkan dari sawah tadah hujan mereka yang bisa seluas 1 ha.
Oia, beberapa petani di Desa Hambaro juga mendapatkan penghasilan tambah dengan membudidaya katuk di bawah kebun jambu mereka. Pengembangan katuk di Nanggung –sebagai tanaman sayuran yang kompatibel dengan agroforestry dibantu oleh tim peneliti dari ICRAF dan IPB.
Pilpres 2009: Ini survei-ku, bukan survei-mu

Survei tampaknya menjadi senjata yang diperhitungkan dalam pentas politik pemilihan presiden 2009. Tiba-tiba banyak orang yang gerah dengan hasil survei, tak terkecuali pasangan capres yang mendapat angka ‘tidak menarik’.
Survei adalah cara cepat dengan mengambil sampel dari responden dengan prosentasi dan teknik tertentu.
Tak terkecuali pasangan JK-Wiranto yang mendapat angka ‘cuma’ 7% dari dua hasil survey sebelumnya. Lalu, tiba-tiba muncul hasil survei dari Lembaga Riset Informasi (LRI) yang menempatkan pasangan JK-Wiranto dalam posisi kedua, sekitar 29%.
LRI, menurut pengamat politik Bima Arya Sugiarto ternyata lemah metodologinya. Oia, Berbeda dengan LSI yang terang-terangan mengaku dibiayai oleh Fox –konsultan politik SBY, Presiden LRI Johan O Silalahi, membantah kalau survei lembaganya dibiayai oleh JK-Wiranto. Tapi ternyata ada yang mengatakan kalau Johan adalah bagian dari tim JK. Menurut Allvoices, Johan adalah ketua dari Tim Negarawan Center. Silahkan dicek di sini.
Hmm..lebih baik kalau lembaga survei jujur, tidak hanya siapa yang membiayai tapi juga bagaimana metodologinya. Biar masyarakat bisa menilai mana yang benar-benar lebih cepat atau lebih baik.
Siapapun presidennya, agendanya tetap utang
Wolfgang Fengler dalam tulisannya Imagine a new Indonesia melihat bagaimana anggaran negara Indonesia dikelola dalam beberapa tahun terakhir. Katanya, Indonesia sekarang mempunya posisi yang relatif kuat, meski masih ada dua masalah penting : alokasi dana dan implementasinya. Pada 2008, sekitar 23 persen anggaran dikeluarkan untuk subsidi BBM, listrik dan pupuk. Pada tahun lalu juga, tercatat 13 persen anggaran dialokasikan untuk government apparatus –yang menurut Fengler ini disebut alokasi yang besar dan tidak proposional.
Bagaimana kira-kira pemerintahan berikutnya akan mengelola anggaran negara tersebut? Apakah trend-nya akan tetap diikuti? Ah, bagaimana juga dengan utang-utangnya yang katanya terus meningkat dalam lima tahun terkahir?

